Tuesday, January 12, 2016

Acara IFI minggu ini




Acara IFI minggu ini
Bahasa Indonesia | Français
Lona Hutapea

Meneropong Prancis dari Kacamata yang Berbeda

12 Januari - 17.00

Presentasi buku terbaru Lona Hutapea "Voilà la France" yang dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter La cour de Babel karya sutradara Julie Bertuccelli dengan subtitel bahasa Indonesia.

Baca selengkapnya
Archipel

Presentasi Jurnal Archipel dan Seminar Mengenai Lukisan Kaca Jawa

14 Januari - 15.00

Kamis, 14 Januari pukul 15.00 di Auditorium IFI, Jérôme Samuel, dosen bahasa Indonesia dari Institut national des langues et civilisations orientales (Inalco) dan Direktur Centre Asie du Sud-Est (CASE) akan hadir selain untuk mempresentasikan Jurnal Archipel edisi ke-90, juga untuk memberikan seminar mengenai aspek-aspek lukisan Jawa.

Baca selengkapnya
Kimokal

Duo KIMOKAL

16 Januari - 17.00

Duo yang siap mewarnai panggung musik Tanah Air ini akan tampil di Institut Prancis di Indonesia tanggal 16 Januari 2016 membawakan album perdana mereka "O".  

Baca selengkapnya
Share
Tweet
Forward
Lona Hutapea

La France et les Français, au-delà des clichés

12 janvier - 17h

L'Institut Français d'Indonésie est heureux de vous inviter à la rencontre livre et cinéma "La France et Les Français, au-delà des clichés" mardi 12 janvier 2016 à 17h, à l'auditorium à l'Institut Français d'Indonésie, Jl. M.H Thamrin 20, Jakarta 10350.

En savoir plus
Archipel

Présentation de la revue Archipel et Conférence sur les Aspects de la peinture sous verre javanaise

14 janvier - 15h

Jeudi 14 janvier à 15h, à l'auditorium de l'IFI, Jérôme Samuel, Maître de Conférences de langue indonésienne à l'Institut national des langues et civilisations orientales (Inalco) et codirecteur du Centre Asie du Sud-Est (CASE) présentera le 90ème numéro de la revue Archipel à l'occasion de sa conférence sur les Aspects de de la peinture sous verre javanaise.

En savoir plus
Kimokal

Duo KIMOKAL

16 janvier - 17h

Dans le cadre de sa CARTE BLANCHE dans les musiques actuelles Supersonik, l'Institut français d'Indonésie est heureux de présenter le duo KIMOKAL créé en 2014 par Kimo Rizky et Kallula Harsyntha. Mélange d'influences psychédéliques, nu-wave, dub, électro, ballade et pop dans un ton urbain et futuriste, Kimokal propose une recette musicale d'un charme insolite sur la scène indonésienne. 

En savoir plus
Share
Tweet
Forward
Copyright © 2016 IFI, All rights reserved.
You are receiving this email because you opted in at our database

Our mailing address is:
IFI
Institut Français Indonesia (IFI)
Jl MH Thamrin No. 20
Jakarta 10350
Indonesia

Add us to your address book


Want to change how you receive these emails?
You can update your preferences or unsubscribe from this list


Pameran: FastForward


Undangan Pameran
View this email in your browser
Akiq AW, Photographic Time and Motion; Still Life, video 3 channel, 2010

Mengundang Anda untuk menghadiri:

Exhibition / Pameran


FASTFORWARD
An Exhibition with Video Works / Pameran Karya Video

Akiq AW | 
Cahyo Prayogo | Eldwin Pradipta | Hanura Hosea | Muhammad Akbar | Popok Tri Wahyudi | Restu Ratnaningtyas | Terra Bajraghosa | Zulhiczar Arie

Opening / Pembukaan
19 January 2016, 7.30 PM

Exhibition / Pameran
19 January – 7 February 2016

Rumah Seni Cemeti / Cemeti Art House
Jl. D.I. Panjaitan 41 Yogyakarta


Pasca reformasi '98 menjadikan medan sosial Indonesia bak ladang subur bagi bertumbuhnya media massa yang disirami oleh proyeksi demokrasi yang sebenar-benarnya. Kanal arus bebas bicara terbuka lebar-lebar secara seketika, publik yang direpresi tak boleh bebas berbicara sekian lama pun mengalami eforia. Kuat gelombangnya tak terprediksi dan hampir-hampir tak terkendali. Laju percepatan reproduksi sosial masyarakat Indonesia menyambut evolusi dan perkembangan teknologi media, yang menyajikan kemungkinan diciptakannya berbagai macam kanal-kanal kecil baik bagi distribusi dan konsumsi informasi. Perkembangan teknologi media komunikasi di medan sosial telah membelah dan membagi-bagi aliran arus besar bebas bicara pasca reformasi, sekaligus menyajikan pilihan menu topik spesifik dalam praktek konsumsi media, dan membentuk segmen-segmen publik baru.
 
Hingga saat ini, televisi masih menempati posisi paling favorit bagi masyarakat kita dalam praktek konsumsi media. Tidak lagi harus mengisi ACCU setiap dua minggu sekali, dan atau melawat ke rumah tetangga terkaya di desa untuk menyaksikan tayangan layar kaca. Hampir setiap ruang keluarga kini dihiasi oleh layar kaca, yang kemudian menjadi situs penting bagi ritual keseharian mereka: nonton TV. Ritus tersebut bahkan kini menjadi sangat personal, berdasarkan pada kebutuhan dan selera masing-masing anggota keluarga. Tidak semua anggota keluarga menyukai satu tayangan yang sama dan hampir tidak mungkin nonton TV bersama; bapak wajib nonton Liputan 6, ibu tak mau ketinggalan Tukang Bubur Naik Haji, kakak gemar Hot Kiss, Ipin dan Upin adalah teman fantasia adik bermain setiap sore.
 
Layar seakan tidak lagi merupakan sekat antara alam sehari-hari dan alam representasi. Selama layar masih memuat  sosok, gerak, suara, cerita, dan peristiwa yang menggerakkan aspek-aspek emosional, maka semua itu menjadi realita kedua dari alam sehari-hari. Jalinan sosial imajiner antara pemirsa dengan apa yang ada di dalam layar tidak hanya membentuk imaji-imaji baru, namun realita sosial baru, kontrak sosial baru. Melalui jalinan-jalinan inilah berbagai macam kepentingan sosial, ekonomi, politik memberlangsungkan lenggang interpelasi; memperebutkan, memanggil, merayu segmen-segmen pemirsa sebagai individu agar secara suka rela masuk ke dalam peluk buai kuasa hegemoni[1].
 
Marina Camargo Heck meminjam nalar Poulantzas untuk mempertajam pandangannya bahwa hubungan sosial imajiner – di dalam hal ini adalah representasi yang ada di dalam layar dengan pemirsa – di dalam praktek fungsi sosial yang nyata tidak bisa diturunkan sebagai problematika alienasi dan kesadaran palsu. Terdapat surpulus nilai tersembunyi dari persepsi spontan yang lepas dari tingkatan yang terdistorsi. Hal itu merupakan tingkatan kedalaman struktur 'invisibel' dan 'unconscious', yang secara simultan membentuk kesadaran persepsi spontan kita[2].  Untuk menemukan logika relasinya, kita tidak bisa hanya menerawang pada wacana media secara global. Bukti-bukti relasi justru berkelindan di dalam praktek-praktek hidup paling sederhana dan sehari-hari, misalnya di dalam kegiatan nonton TV dan peristiwa-peristiwa domestik di sekitar layar.  Tidak bisa lagi diingkari, perangkat layar memiliki dominasi yang luar biasa dalam membentuk opini, selera, gaya hidup, dan bahkan ideologi turut dibentuk olehnya. Dengan kata lain, layar turut menentukan bentuk masyarakat, kelas-kelas sosial baru. Apakah dengan demikian kita masih bisa menganggap bahwa apa yang ada dilayar adalah sekedar ilusi?
 
Rumah Seni Cemeti berupaya melihat kembali relasi sosial imajiner antara layar, 'yang ada di dalam layar', publik dan percepatan reproduksi sosial melalui proyek pameran video  bertajuk 'FastForward'. 'FastForward' akan menampilkan karya-karya video dengan pendekatan yang paling 'tradisional', dimana layar –dalam pengertian bidang datar audio visual- akan menjadi lokus tanda yang akan dibaca, situs ritus menonton, ritus mendiskusikan yang ditonton. Melalui karya-karya terpilih dari sembilan seniman akan muncul berbagai macam kontras pendekatan, interprerasi, penerjemahan atas tema yang ditarik ke dalam logika bahasa visual, waktu dan frekuensi tersendiri, yang akan membantu kita dalam membangun kesadaran layar.
 
(1) Louise Althusser, Ideology and Ideological Stage Apparatuses (Note towards an Investigations), hlm. 145.
(2) Marina Camargo Heck, The Ideological Dimensi of Media Messages di dalam the Taylor & Francis e-Library, 2005, hlm. 110-116.
 
didukung oleh:
           
Copyright © 2016 Cemeti Art House, All rights reserved.

Cemeti Art House / Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta 55143
Open: 09.00 - 17.00, Closed on Sunday & Monday
Telp/Fax. +62 (0) 274 371015
M. +62 (0) 812 273 3564

Anggota Koalisi Seni Indonesia / Member of the Indonesian Arts Coalition
www.koalisiseni.or.id

Share
Tweet
Forward






 


be our guest at the Vernissage, Thursday January 21st


> Exhibition: Singapore Contemporary
> Please be our guest at the Vernissage, Thursday January 21st, 5.30pm to 9pm
>  
>  
> ​
> ​
> ​
> ​
> ​
>  
> Viviyip Artroom, Indonesia, Booth C17
>
> The Directors of Viviyip Artroom invite you and a guest to join us for the Vernissage of the inaugural edition of Singapore Contemporary. The show presents an exceptional collection of original paintings, limited editions, sculpture and photography from some of the world's most interesting and promising artists – from emerging and mid-career artists, to those who have already achieved recognition in private and public collections, and at auction.
>
> This invitation also gives you admission to Singapore Contemporary on other show days, access to the VIP Lounge, and complimentary admission to the enriching program of tours and special events, for adults and children.
>
> DOWNLOAD INVITATION
>  
> ​
> ​
> ​
> ​
> ​
>  
> The Artists
>  
>
> Patuh Tanpa Raja
> Hendra "HeHe" Harsono
>
>  
>
> Domestic Print
> Theresia Agustina S.
>
>  
>
> Valerie Ceramics
> Valerie Torcheaux
>
>  
> View more Artworks
>  
> ​
> ​
>  
> Like
> Tweet
> Forward
> vivi yip art room
> Jl. Mertilang XVI Blok KC4 No.7
> Bintaro Sektor 9, Tangerang
> Indonesia 15229
>
> Opening Hours:
> 11 AM – 7 PM
> Except Sunday and Public Holiday
> Enquiries:
> +62 21 7900 480
> email: vivi@viviyipartroom.com
> www.viviyipartroom.com
>
> © 2015, Vivi Yip Art Room. All rights reserved.

Thursday, January 7, 2016

'Art Speaks Out' at Istanbul Museum of Modern Art

 

'Art Speaks Out'
at Istanbul Museum of Modern Art



 
'Time is a warning. Time also as a signifier: day-night, birth-death,  age, historical or socio-cultural events.
The value of the time does not only affect the human being, but also to environment and cosmic's harmony. Outsmarting the time is an essential thing of human's spiritual and ecological responsibility
to himself and Universe. It is a critique on human's destructive behavior against the
environment and the harmony of time and space mechanism of the Universe
 
'Demi Masa', a video by Arya S.Putra

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Art Speaks Out will be screened at Istanbul Museum of Modern Art
as part of the exhibition TILL IT'S GONE on January 13 - June 5, 2016


Participants: 
Roger Ackling, Bas Jan Ader, Alper Aydın, Bingyi, Jasmin Blasco and Pico Studio, Charles A. A. Dellschau, Elmas Deniz, Mark Dion, Hamish Fulton, Francesco Garnier Valletti, Rodney Graham, ikonoTV "Art Speaks Out", Lars Jan, Mario Merz, Maro Michalakakos, Joni Mitchell, Yoko Ono*, Camila Rocha, Canan Tolon, Pae White


Curators: Çelenk Bafra and Paolo Colombo



www.artspeaksout.ikono.tv
www.istanbulmodern.org









mafoholic,
www.vimeo.com/mafoholic
Email: mafoholic@gmail.com
Phone: +628157053090
Our mailing address:
Sanggrahan
Yogyakarta (55182)
Indonesia
Change mailing preferences:
Unsubscribe from this list
 
Free Email Marketing
 
Create stunning newsletters and email campaigns with TargetHero's free email marketing platform
Advertisement

Hibah Riset Kuratorial Selasar Sunaryo Art Space 2016



Undangan Terbuka
HIBAH RISET KURATORIAL
SELASAR SUNARYO ART SPACE 2016


Untuk mendukung praktik serta riset kuratorial di Indonesia, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menyelenggarakan undangan terbuka untuk Hibah Riset Kuratorial SSAS 2016. Skema hibah ini bertujuan memfasilitasi para kurator di Indonesia untuk melakukan riset yang akan menjadi pijakan pemikiran untuk realisasi sebuah pameran seni rupa.

Bandung New Emergence (BNE) adalah pameran reguler yang digagas dan diselenggarakan oleh Selasar Sunaryo Art Space setiap dua tahun yang bertujuan memetakan perkembangan seni rupa kontemporer di Bandung melalui karya-karya seniman muda. Riset kuratorial yang diusulkan untuk Hibah Kuratorial SSAS 2016 diharapkan dapat menjadi dasar pemikiran yang melatarbelakangi konsep dan penyelenggaraan pameran BNE #6 pada 2016.
Ketentuan peserta hibah:
Peserta adalah warga negara Indonesia, atau warga negara asing yang sudah tinggal dan bekerja di Indonesia minimal selama 5 (lima) tahun.
Peserta hanya diperkenankan mengirimkan 1 (satu) proposal.
Peserta tidak dibatasi usia.
Penyelenggara hibah, dewan juri serta kurator-kurator BNE sebelumnya tidak diperkenankan mengirim proposal.
Penerima hibah bertanggungjawab mengelola dana yang diterima untuk kegiatan riset, proses penulisan dan akomodasi selama riset di Bandung.
Jadwal
Batas akhir pengiriman proposal adalah 1 Maret 2016.
Juri akan memilih 3 (tiga) proposal terbaik dan hasilnya diumumkan pada Minggu Kedua, Maret 2016.
Pengirim 3 (tiga) proposal terbaik diundang untuk melakukan presentasi di hadapan publik di Bandung pada Minggu Ketiga, Maret 2016.
Penerima/pemenang hibah diumumkan pada 1 April 2016.
Realisasi Pameran BNE #6 di Selasar Sunaryo Art Space pada semester kedua 2016
Riset Kuratorial dan Dana Hibah:
Cakupan tema, metodologi riset kuratorial dan strategi presentasi tidak dibatasi.
Kurator yang terpilih akan memperoleh dana hibah sebesar Rp 35 juta (tiga puluh lima juta rupiah).
Dana hibah mencakup pertanggungan yang diberikan untuk biaya riset dan penulisan laporannya, honorarium kurator pameran, penulisan untuk katalog, transportasi dan akomodasi selama melakukan riset dan persiapan pameran BNE #6, 2016 di Bandung.
Dana hibah akan diserahkan bersamaan dengan pengumuman pemenang.
Hasil riset ditulis dalam format laporan ilmiah (bukan esai bebas) sepanjang 10.000-12.000 kata (tidak termasuk catatan kaki, bibliografi, keterangan gambar, dan appendix).
Periode riset: Maret – Juni 2016.
Laporan hasil riset diserahkan paling lambat 30 Juni 2016.
Penyelenggara berhak mempublikasikan hasil riset dengan sepengetahuan penulis/periset.
Dewan Juri
Agung Hujatnikajennong, kurator independen dan pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB.
Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Hendro Wiyanto, kurator independen dan kritikus seni rupa.
Titarubi, seniman dan pendiri Indonesia Contemporary Art Network (Ican), Yogyakarta.
Sunaryo, seniman dan direktur Selasar Sunaryo Art Space.

Download:
Pedoman Aplikasi dan Formulir Formulir Hibah Riset Kuratorial SSAS 2016

Contact person:
Chabib Duta Hapsoro (081225010215)



DOWNLOAD


Pedoman Aplikasi dan Formulir Formulir Hibah Riset Kuratorial SSAS 2016



HUBUNGI (PIC)


Chabib Duta Hapsoro (081225010215)

TENTANG SSAS
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS)adalah sebuah ruang dan organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia.

KANTOR SSAS


Jl. Bukit Pakar Timur No.100
Bandung – 40198
West Java - Indonesia

Phone: (+62) 22 250 7939
Fax: (+62) 22 251 6508
Email: info[at]selasarsunaryo.com

PLAN YOUR VISIT


Open Hours
Tuesday–Sunday
(10:00 a.m – 05:00 p.m)
* Last entry 30 minutes before closing

Closed
Monday & National Holiday

ABOUT SSAS
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS)adalah sebuah ruang dan organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia.© 2015 Selasar Sunaryo Art Space. Site by TiasaWeb.