Friday, July 21, 2017

Kecil itu Indah 15 | Tuesday, 25 July 2017, at 19:00 hrs



Dear Art Lover, 




Edwin's Gallery
Kemang Raya No. 21, Kemang, Jakarta 12730, Indonesia
Ph: +62 21 7194721, +62 21 71790049
Fax: +62 21 71790278
web: www.edwinsgallery.com


OK. PANGAN | OK. VIDEO - INDONESIA MEDIA ARTS FESTIVAL 2017

---------- Forwarded message ----------
From: "Gudang Sarinah Ekosistem" <info@gudangsarinah.com>
Date: Jul 21, 2017 12:58 AM
Subject: [UNDANGAN] OK. PANGAN | OK. VIDEO - INDONESIA MEDIA ARTS FESTIVAL 2017
To: "okvideo" <okvideo@ruangrupa.org>
Cc:

UNDANGAN

Inline image 2

 

OK. Video dan Gudang Sarinah Ekosistem

Mempersembahkan:

 

OK. PANGAN

OK. VIDEO - INDONESIA MEDIA ARTS FESTIVAL 2017

 

22 Juli – 16 Agustus 2017

 

Tempat:

-       Gudang Sarinah Ekosistem

Jl. Pancoran Timur IIE no.4, Pancoran, Jakarta Selatan, Jakarta.

-       Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Jl. Ir. H. Juanda 20, Bogor

-       Museum Zoologi

               Jl. Ir. H. Juanda No. 9, Bogor

 

Pembukaan Pameran:

Sabtu, 22 Juli 2017

Pukul 19.00 WIB

Gudang Sarinah Ekosistem

 

Dengan penampilan musik dan visual "Obrolan Meja Makan"

Jason Ranti, Catur HD, Allan Soebakir, Nissal Berlindung, VJ Herbal, Uncles Twins

 

Special Showcase

"Beyond Control" Sebuah Performance oleh Carolina Caycedo

 

Pameran:

22 Juli - 16 Agustus 2017, pukul 12:00 - 21:00 WIB

Istirahat pukul 17:00-18:00

(Hall A4, A1 dan RURU Gallery) Gudang Sarinah Ekosistem

Donasi. Rp 10.000

 

 

Pada edisi ke delapan yang diselenggarakan tahun ini, OK. Video mencoba melihat peluang seni media dalam menarasikan dan mewacanakan isu politik pangan. Isu ini dihadirkan sebagai upaya untuk melihat pangan sebagai medium yang memiliki sejarah kebudayaan yang mencakup sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana teknologi, media, dan sains, dilihat tidak hanya berperan sebagai pendukung bagi pengadaan dan pengembangan kebutuhan pangan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai media kritis yang menanggapi situasi eksplorasi dan komodifikasi pangan oleh teknologi, media, dan sains itu sendiri yang memiliki dampak besar terhadap perubahan lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi. Seni media dicoba ditempatkan sebagai sebuah upaya untuk melacak, menelusuri, menemukan, memaparkan, mendukung, menyerang, dan atau bahkan bertindak sebagai media yang mencoba mengintegrasikan antara gagasan, hasrat, peluang, dan usaha nyata dalam pemenuhan kebutuhan pangan, melalui peluang eksplorasi artistik yang dimungkinkan lahir dari persilangan antara teknologi, media, sains, dan seni.

 

Performance

 

Agung Kurniawan - Masya Allah Transgenik

Rabu, 16 Agustus 2017 pukul 19.30 WIB - selesai

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

 

Ales Cermak - The Earth Trembles

Minggu, 23 Juli 2017, pukul 19:00 WIB - selesai

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

Minggu, 6 Agustus 2017 pukul 19:00 WIB - selesai

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

 

Carolina Caycedo - Beyond Control

Sabtu, 22 Juli 2017 pukul 20:00 WIB - selesai

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

Rabu, 2 Agustus 2017 pukul 15:20 WIB - selesai

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

 

Program Belajar

 

A. Diskusi

 

Makanan, Kebertahanan, dan Ekonomi

Jumat, 28 Juli 2017, pukul 15.00 - 18.00 WIB

Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem

Pembicara. The Popo, FORKS (Purusha Cooperative Research), Renal Rhinoza, Dholy Husada (Warung Ramah). Moderator. Berto Tukan

 

#instafood yang HQQ

Minggu, 6 Agustus 2017 pukul 16.00 - 18.00 WIB

Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem

Pembicara. Anton Ismail (Kelas Pagi), Rimbo Gunawan (Universitas Padjajaran). Moderator. Nastasha Abigail

 

B. Lokakarya

 

Membuat Keranjang Takakura

Sabtu, 22 Juli 2017, pukul 13.00-16.00 WIB

Kebun Pancoran

Pemateri. Warung Ramah

Donasi. Rp 300.00,-/Maksimal 20 peserta

 

Memulung dan Meramu Tetumbuhan Liar

Minggu, 23 Juli 2017, pukul 16.00-18.00

Ruang Open Lab, pekarangan dan lingkungan sekitar Gudang Sarinah Ekosistem

Pemateri. Bakudapan

Donasi. Rp 300.000,-/Maksimal 20 peserta

 

Penyulingan Bahan Bakar Alternatif

Rabu, 26 Juli 2017, pukul 15.00-18.00 WIB

Kebun Pancoran

Pemateri. Warung Ramah

Donasi. Rp 300.000,-/Maksimal 20 peserta

 

Meramu Jamu

Pemateri. Warung Ramah

Minggu, 30 Juli 2017, pukul 10.00-12.00 WIB

Kebun Pancoran

Donasi. Rp 300.000,-/Maksimal 20 peserta

 

C. Penayangan Film

 

Kamis, 6 Juli 2017, pukul 19:00-selesai WIB

La Terra Trema (atau Bumi Bergolak)

Luchino Visconti, 1948, Italia, 2 jam 45 menit

 

Kamis, 13 Juli 2017, pukul 19:00-selesai WIB

Riso Amaro (atau Bitter Rice)

Giuseppe De Santis, 1949, Italia, 1 jam 48 menit

 

Kamis, 20 Juli 2017, pukul 19:00-selesai WIB

Neak Sre (atau The Rice People)

Rithy Panh, 1994, Kamboja, 2 jam 5 menit

 

Kamis, 27 Juli 2017, pukul 17:00-19:00 WIB

FOOD

Gordon Matta-Clark, 1972, Amerika Serikat, 43 menit

 

Kamis, 27 Juli 2017, pukul 19:00-selesai WIB

Asal-Usul Makanan (atau Genèse d'un repas)

Luc Moullet, 1979, Prancis, 1 jam 55 menit

 

Kamis, 3 Agustus 2017, pukul 19:00-selesai WIB

Dongeng Rangkas (Rangkasbitung: A Piece of Tale)

Andang Kelana, Badrul Munir, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale, Syaiful Anwar, 2011, Indonesia, 1 jam 15 menit

 

Kamis, 10 Agustus 2017, pukul 19:00-selesai WIB

Kaki Kôba (atau The Oyster Factory)

Kazuhiro Soda, 2015, Jepang, 2 jam 25 menit

 

 

Simposium

 

Transfer Teknologi atau Bertukar Pengetahuan?

Sabtu, 29 Juli 2017, pukul 10.00-12.30 WIB

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Auditorium)

Jl. Ir. H. Juanda no.20, Bogor

 

Politik Benih : Seragam atau Beragam?

Sabtu, 29 Juli 2017 pukul 14.00 – 16.30

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Auditorium)

Jl. Ir. H. Juanda no. 20, Bogor

 

Urban Farming: Solusi Pangan Perkotaan?

Rabu, 2 Agustus 2017 pukul 13.00-15.20

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

 

Dari Hulu ke Hilir: Eksperimen Model Alternatif dalam Rantai Pangan

Rabu, 2 Agustus 2017 pukul 15.00-18.00

Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem

 

Obrolan Dapur (Pantry Talk) Sesi Outdoor

Sabtu, 5 Agustus 2017 pukul 10.00-15.00

Rusun Flamboyan, Jl. Pulo Harapan Indah, RT. 16 / RW. 10, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta

 

 

Bincang Seniman dan Open House-Open Lab

 

Bincang Seniman

Minggu, 23 Juli 2017, pukul 13.00-15.00 WIB

Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem

Pembicara. Ary Sendy, Tadasu Takamine, Wapke Feenstra. Moderator. Renan Laru-an

 

Senin, 24 Juli 2017, pukul 15.00-18.00 WIB

Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem

Pembicara. Ales Cermak, Saleh Husain, Soemantri Gelar. Moderator. Mahardika Yudha

 

Open House Open Lab

Jumat, 28 Juli 2017, pukul 19.30-selesai WIB

Ruang Open Lab

Performans dan Pembicara. Bakudapan

 

Minggu, 30 Juli 2017, pukul 14.00-18.00 WIB

Ruang Open Lab

Pembicara. Julian Abraham, Warung Ramah, Arne Hendriks, Mark Sanchez,. Moderator. Marcellina Kencana Dwi Putri

 

Minggu, 6 Agustus 2017, pukul 13.00-15.00 WIB

Ruang Open Lab

Pembicara. Syaiful 'Tepu' Garibaldi Minerva, Pppooolll. Moderator. Bellina Erby

 

Tur Bersama Kurator

 

Sabtu, 29 Juli 2017, pukul 15:00 - 18:00 WIB

Hall A4, RURU Gallery, Ruang Open Lab, Kebun Pancoran

 

Sabtu, 12 Agustus 2017, pukul 15.00 - 18.00 WIB

Hall A4, RURU Gallery, Ruang Open Lab, Kebun Pancoran

 

Pembicara: Renan Laru-an & Julia Sarisetiati

 

Video Out

12-13 Agustus 2017, pukul 19:00/20:00/21:00-selesai

Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Palu, Larantuka, Solok, Lombok Utara, Timika, Medan, dan Pekanbaru

 

 

Tentang OK. Video

OK. Video - Festival Seni Media Indonesia adalah acara seni media dua tahunan yang dilakukan oleh OK. Video, sebuah divisi dari ruangrupa. Sejak dimulainya pertama pada tahun 2003, festival ini bertujuan untuk mengamati,, merekam dan mempelajari perkembangan teknologi media, yang telah mengubah perspektif dan perilaku masyarakat terhadap pandangan sekitarnya mereka. Seiring dengan festival seni media dua tahunan ini, OK. Video juga menjalankan program lainnya, termasuk; produksi, dokumentasi, penelitian, arsip, lokakarya dan distribusi karya seni seni media di Indonesia.

 


***


www.okvideofestival.org

Instagram @okvideofestival

Twitter @ok_video

Facebook OK. Video.


--
Warm Regards

Admin

Gudang Sarinah Ekosistem
Jalan Pancoran Timur IIE, No.4
Jakarta Selatan, 12780

Thursday, July 20, 2017

ART Modena Retro Refrigerator for ART JAKARTA 2017

ART Modena Retro Refrigerator by Radi Arwinda for ART JAKARTA 2017
ART CHARITY AUCTION for
Yayasan Mitra Museum Jakarta and Jakarta Contemporary Ceramic Biennale




KULAKINEKO by Radi Arwinda.... fresh lucky everyday Along with the development of the era and technology, now there is a device that is able to gives luck for urban communities. Kulakineko (Cool Lucky Neko) is a cutting-edge technology to create and preserve luck in an effective and environmentally friendly way. Anything that goes into this device will have long-lasting positive benefits without reducing its natural potential and value. The elegant and efficient form in the utilization of electrical energy becomes a wise decision for the modern society in choosing a technology device. Interacting with this tool is consistently able to improve the health quality of its users to become positive individuals and always achieve luck at all times.



Dedication  by Kemal Ezedine....Art in Bali becomes an integration in the religious activities of its people, they are all carried out with a high dedication to provide the best offerings.  An example could be seen through the style of Kamasan paintings. Through its growth, the history of Balinese paintings show different new sects in the art practice of the Balinese community. Aside from the element of religion (Batuan sect, Ubud sect, Pengosekan sect, Sanur sect and Keliki sect), the behavior of this cultural artwork becomes important on seeing the characteristics of how Balinese people create their artwork with persistency and patience. “Crowd and Quiet” composition becomes the foundation on presenting the artworks, in result Balinese paintings are more ‘read’ than ‘seen’ because of how intensely detailed and intimate they are. The attitude of the Balinese people in paintings became the philosophy of my artwork from their practice to how they dig into their thoughts. Including my collaboration with Modena,







Its another canvas until you use it  by Hendra ''Hehe" Harsono.... An object would be more valued if there was a meaning inside it, so through my artwork I tried to embed the value of it. The value is gained from knowing and reminiscing one’s object. On this art Modena retro refrigerator, I tried to experiment through the experience of owning my first refrigerator at home, there was a feeling of happiness and excitement. Although, the value of art that is imposed on a household material becomes dull when it is not properly utilized.


Don't Miss it, only at
ART JAKARTA 2017
Presented by Bazaar
The 9th Edition of the First & The Foremost Art Fair in Indonesia
July 27 - 30, 2017
Grand Ballroom
The Ritz Carlton Jakarta Pacific Place
Co-presented by
Pacific Place Jakarta
BEKRAF
AQUA Reflections
Samsung Galaxy Tab S3
Samsung The Frame TV
L’Occitane
Bakti Budaya Djarum Foundation
Art Charity Auction also presented by
Modena
Zen - Fine Porcelain Tabelware
#art #artjakarta #baj #aj2017 #artcharity #auction #radiarwinda  #bazaar #Bazaarindonesia #modena #event #festival #festivalsenirupa #senirupa #indonesia #indonesiahebat

Monday, July 17, 2017

Internasionalisme Seni: Antara penahbisan pusat atau sebagai ruang percakapan




CRAFTMANTALK #2
 
Internasionalisme Seni:
Antara penahbisan pusat atau sebagai ruang percakapan

 
 
Pemantik:
Adelina Luft
(Kurator Seni Rupa)
Hasan Basri
(Lurah Pesantren Kaliopak)
 
Waktu:
Rabu, 19 Juli 2017
Pukul 15.00-18.00
 
Tempat:
Galeri Lorong
Jl. Nitiprayan –Dusun Jeblok RT. 01, Dukuh 3, Tortonirmolo, Kasihan Bantul
 
Gagasan tentang internasionalisme seni disebut sulit dilepaskan dari pembicaraan tentang pusat dan pinggiran. Ia terkait dengan klasifikasi atau standar, dan perihal bagaimana sebuah praktik artistik bisa diakui atau masuk dalam arus dunia. Bagaimana standarisasi itu dibentuk? Siapa yang berwenang untuk menentukan batas-batasnya? Untuk melihat praktik seperti apa yang menjadi standar, kadangkala orang hanya menunjuk pada aneka perhelatan besar dunia semacam Documenta atau Venesia Biennale–, serta museum/galeri terkemuka di Barat (USA-Eropa) untuk dikunjungi.

Dalam berbagai kajian, model internasionalisme yang demikian (old internationalism), dipandang sekadar mengafirmasi superioritas atau kanon Barat. Sejumlah respon bermunculan, baik dari dunia Barat itu sendiri maupun kawasan-kawasan non-Barat. "New internationalism", misalnya, hadir untuk menggantikan gagasan tentang internasionalisme lama yang dipandang berstandar ganda karena memosisikan seni non-Barat secara sub-ordinat, yang karya-karyanya sekadar dinilai sebagai "heritage" dan hanya layak dipamerkan di museum-museum etnografi. Adapun dari dunia non-Barat, salah satunya berupaya mengonsolidasikan diri melalui aliansi Selatan-Selatan, yang baik sebagai diskursus maupun praktik, melawan dominasi kanon Barat. Dimulai dari Sao Paolo Biennale pada 1951 hingga sejumlah perhelatan serupa sampai pada akhir 1980an.

Pada perkembangan selanjutnya, pasca-1989 hingga era 2000an, kita bisa melihat model relasi yang lebih baru. Diklaim baru karena batas antara "pusat" dan "pinggiran", kendati masih bisa diperdebatkan, dibayangkan telah retas. Perhelatan-perhelatan berformat biennale yang berskala internasional bermunculan di kawasan-kawasan non-Barat. Di Indonesia sendiri, ada dua (dari lima) biennale yang berformat biennale internasional, yakni Biennale Jakarta dan Jogja. Tentu saja masing-masing biennale internasional tersebut punya imajinasi yang berbeda dalam memandang "internasionalisme". Biennale Jogja, misalnya, sejak 2011 mengeksplorasi gagasan tentang khatulistiwa (equator) sebagai platform kerjanya. Melalui platform itu, Biennale Jogja secara eksklusif berupaya menjalin kerja sama dan ruang percakapan dengan kawasan-kawasan yang dilalui garis khatulistiwa.

Tentu saja pembicaraan tentang internasionalisme seni ini menarik untuk kita tilik lebih lanjut. Craftmantalk kali ini akan kita arahkan untuk mengulik soal-soal internasionalisme seni, baik sebagai wacana maupun praktiknya dalam perhelatan seni internasional semacam Biennale Jogja Equator. Untuk membicarakan hal tersebut, kami mengundang dua orang pemantik, Adelina Luft dan Hasan Basri. Pemantik pertama, Adelina Luft, baru-baru ini menyelesaikan tesisnya yang mengangkat soal internasionalisasi dan titik balik wacana (discursive turn) dalam Biennale Jogja Equator. Adel kurang lebih akan mengantar kita untuk membayangkan tentang internasionalisme seni secara umum dan antinominya melalui praktik seni atau "biennale-biennale pinggiran". Pemantik kedua, Hasan Basri, akan menjadi pembanding sekaligus kita harapkan bisa memberikan pembacaan yang kritis terhadap gagasan atau praktik internasionalisme/internasionalisasi seni saat ini.




Email:
galerilorong@gmail.com
Copyright © *2017 || GALERI LORONG*, All rights reserved.

Our mailing address is:
GALERI LORONG
Dusun Jeblok RT 01 Dukuh 3, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta