Thursday, July 20, 2017

ART Modena Retro Refrigerator for ART JAKARTA 2017

ART Modena Retro Refrigerator by Radi Arwinda for ART JAKARTA 2017
ART CHARITY AUCTION for
Yayasan Mitra Museum Jakarta and Jakarta Contemporary Ceramic Biennale




KULAKINEKO by Radi Arwinda.... fresh lucky everyday Along with the development of the era and technology, now there is a device that is able to gives luck for urban communities. Kulakineko (Cool Lucky Neko) is a cutting-edge technology to create and preserve luck in an effective and environmentally friendly way. Anything that goes into this device will have long-lasting positive benefits without reducing its natural potential and value. The elegant and efficient form in the utilization of electrical energy becomes a wise decision for the modern society in choosing a technology device. Interacting with this tool is consistently able to improve the health quality of its users to become positive individuals and always achieve luck at all times.



Dedication  by Kemal Ezedine....Art in Bali becomes an integration in the religious activities of its people, they are all carried out with a high dedication to provide the best offerings.  An example could be seen through the style of Kamasan paintings. Through its growth, the history of Balinese paintings show different new sects in the art practice of the Balinese community. Aside from the element of religion (Batuan sect, Ubud sect, Pengosekan sect, Sanur sect and Keliki sect), the behavior of this cultural artwork becomes important on seeing the characteristics of how Balinese people create their artwork with persistency and patience. “Crowd and Quiet” composition becomes the foundation on presenting the artworks, in result Balinese paintings are more ‘read’ than ‘seen’ because of how intensely detailed and intimate they are. The attitude of the Balinese people in paintings became the philosophy of my artwork from their practice to how they dig into their thoughts. Including my collaboration with Modena,







Its another canvas until you use it  by Hendra ''Hehe" Harsono.... An object would be more valued if there was a meaning inside it, so through my artwork I tried to embed the value of it. The value is gained from knowing and reminiscing one’s object. On this art Modena retro refrigerator, I tried to experiment through the experience of owning my first refrigerator at home, there was a feeling of happiness and excitement. Although, the value of art that is imposed on a household material becomes dull when it is not properly utilized.


Don't Miss it, only at
ART JAKARTA 2017
Presented by Bazaar
The 9th Edition of the First & The Foremost Art Fair in Indonesia
July 27 - 30, 2017
Grand Ballroom
The Ritz Carlton Jakarta Pacific Place
Co-presented by
Pacific Place Jakarta
BEKRAF
AQUA Reflections
Samsung Galaxy Tab S3
Samsung The Frame TV
L’Occitane
Bakti Budaya Djarum Foundation
Art Charity Auction also presented by
Modena
Zen - Fine Porcelain Tabelware
#art #artjakarta #baj #aj2017 #artcharity #auction #radiarwinda  #bazaar #Bazaarindonesia #modena #event #festival #festivalsenirupa #senirupa #indonesia #indonesiahebat

Monday, July 17, 2017

Internasionalisme Seni: Antara penahbisan pusat atau sebagai ruang percakapan




CRAFTMANTALK #2
 
Internasionalisme Seni:
Antara penahbisan pusat atau sebagai ruang percakapan

 
 
Pemantik:
Adelina Luft
(Kurator Seni Rupa)
Hasan Basri
(Lurah Pesantren Kaliopak)
 
Waktu:
Rabu, 19 Juli 2017
Pukul 15.00-18.00
 
Tempat:
Galeri Lorong
Jl. Nitiprayan –Dusun Jeblok RT. 01, Dukuh 3, Tortonirmolo, Kasihan Bantul
 
Gagasan tentang internasionalisme seni disebut sulit dilepaskan dari pembicaraan tentang pusat dan pinggiran. Ia terkait dengan klasifikasi atau standar, dan perihal bagaimana sebuah praktik artistik bisa diakui atau masuk dalam arus dunia. Bagaimana standarisasi itu dibentuk? Siapa yang berwenang untuk menentukan batas-batasnya? Untuk melihat praktik seperti apa yang menjadi standar, kadangkala orang hanya menunjuk pada aneka perhelatan besar dunia semacam Documenta atau Venesia Biennale–, serta museum/galeri terkemuka di Barat (USA-Eropa) untuk dikunjungi.

Dalam berbagai kajian, model internasionalisme yang demikian (old internationalism), dipandang sekadar mengafirmasi superioritas atau kanon Barat. Sejumlah respon bermunculan, baik dari dunia Barat itu sendiri maupun kawasan-kawasan non-Barat. "New internationalism", misalnya, hadir untuk menggantikan gagasan tentang internasionalisme lama yang dipandang berstandar ganda karena memosisikan seni non-Barat secara sub-ordinat, yang karya-karyanya sekadar dinilai sebagai "heritage" dan hanya layak dipamerkan di museum-museum etnografi. Adapun dari dunia non-Barat, salah satunya berupaya mengonsolidasikan diri melalui aliansi Selatan-Selatan, yang baik sebagai diskursus maupun praktik, melawan dominasi kanon Barat. Dimulai dari Sao Paolo Biennale pada 1951 hingga sejumlah perhelatan serupa sampai pada akhir 1980an.

Pada perkembangan selanjutnya, pasca-1989 hingga era 2000an, kita bisa melihat model relasi yang lebih baru. Diklaim baru karena batas antara "pusat" dan "pinggiran", kendati masih bisa diperdebatkan, dibayangkan telah retas. Perhelatan-perhelatan berformat biennale yang berskala internasional bermunculan di kawasan-kawasan non-Barat. Di Indonesia sendiri, ada dua (dari lima) biennale yang berformat biennale internasional, yakni Biennale Jakarta dan Jogja. Tentu saja masing-masing biennale internasional tersebut punya imajinasi yang berbeda dalam memandang "internasionalisme". Biennale Jogja, misalnya, sejak 2011 mengeksplorasi gagasan tentang khatulistiwa (equator) sebagai platform kerjanya. Melalui platform itu, Biennale Jogja secara eksklusif berupaya menjalin kerja sama dan ruang percakapan dengan kawasan-kawasan yang dilalui garis khatulistiwa.

Tentu saja pembicaraan tentang internasionalisme seni ini menarik untuk kita tilik lebih lanjut. Craftmantalk kali ini akan kita arahkan untuk mengulik soal-soal internasionalisme seni, baik sebagai wacana maupun praktiknya dalam perhelatan seni internasional semacam Biennale Jogja Equator. Untuk membicarakan hal tersebut, kami mengundang dua orang pemantik, Adelina Luft dan Hasan Basri. Pemantik pertama, Adelina Luft, baru-baru ini menyelesaikan tesisnya yang mengangkat soal internasionalisasi dan titik balik wacana (discursive turn) dalam Biennale Jogja Equator. Adel kurang lebih akan mengantar kita untuk membayangkan tentang internasionalisme seni secara umum dan antinominya melalui praktik seni atau "biennale-biennale pinggiran". Pemantik kedua, Hasan Basri, akan menjadi pembanding sekaligus kita harapkan bisa memberikan pembacaan yang kritis terhadap gagasan atau praktik internasionalisme/internasionalisasi seni saat ini.




Email:
galerilorong@gmail.com
Copyright © *2017 || GALERI LORONG*, All rights reserved.

Our mailing address is:
GALERI LORONG
Dusun Jeblok RT 01 Dukuh 3, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta


Friday, July 7, 2017

Obrolan Heritage #15 | 2017* Selasa, 11 Juli 2017 Pk.17.00 *Omah-Desa-Kuto* *MAJAPAHIT TROWULAN* *The Untold Story*

*Obrolan Heritage #15 | 2017*
Selasa, 11 Juli 2017 Pk.17.00

*Omah-Desa-Kuto*
*MAJAPAHIT TROWULAN*
*The Untold Story*

Pembicara: *Osrifoel Oesman*
Penggalian arkeologi Situs Segaran dekat Museum Trowulan telah memunculkan informasi bangunan rumah yang paling lengkap sepanjang masa klasik Indonesia. Temuannya: dinding-dinding batu bata yang terdiri atas beberapa lapis peradaban, lantai halaman, banyaknya pecahan genting, peralatan tembikar, keramik, sumur, dan saluran pembuangan air. Berdasar temuan arkeologi dan paparan relief-relief candi yang melukiskan rumah-rumah masa Majapahit, Osrifoel bisa membayangkan seperti apa permukiman Kota Majapahit.

Yuk! Jangan sampai ketinggalancatat di agenda mu untuk hadir di
@ *[pda]*
jl. tebet dalam 4-i no.30
Jakarta 12810
RSVP Uni 021-8291932
jam kerja

Biaya sukarela & potluck

Monday, June 19, 2017

Artist Talk by Tintin Wulia_1001 Martian Homes

INDONESIAN PAVILION AT VENICE ART BIENNALE 2017 

ARTIST TALK BY TINTIN WULIA
"1001 MARTIAN HOMES AND OTHER STORIES" 

TUESDAY, 20 . 06
15:30 -> 18:00
SENAYAN CITY, LEVEL 6
JAKARTA 

LIMITED SEATS AVAILABLE 
RSVP AMANDA +62 813 81095565






Thursday, June 15, 2017

Info ASPaC 2017 - Package Design Competition



Tahun 2017 ini The Japan Foundation Jakarta kembali membuka pendaftaran untuk program ASPaC (Asia Students Package Design Competition), sebuah kompetisi desain kemasan tingkat international bagi mahasiswa/i fakultas desain yang diinisiasi oleh Japan Foundation dan JPDA (Japan Package Design Association) di Jepang.

 



Terlampir informasi lebih lanjut mengenai ASPaC sebagai referensi.

 

***

ASPaC Award adalah sebuah kompetisi desain kemasan tingkat international bagi mahasiswa/i fakultas desain yang diinisiasi oleh Japan Foundation dan JPDA (Japan Package Design Association) di Jepang.

 

Tahun 2010, Indonesia berpartisipasi untuk pertama kalinya, dan tahun 2017, negara yang akan berpartisipasi adalah Jepang, Korea, Indonesia, Thailand, China, Taiwan, Singapore, Malaysia, dan Vietnam.

 

Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) di tahun 2014 telah bekerjasama dengan the Japan Foundation, Jakarta untuk turut bersama-sama menyelenggarakan ASPaC. Tahun ini pun ADGI kembali menjadi co-organizer untuk pelaksanaan ASPaC di Indonesia.

 

Sistem seleksi ASPaC dimulai dengan submit entry online, setelah itu penjurian di masing-masing negara, dan akan dipilih minimal 10 karya yang dilombakan final di Jepang. Mock up dari karya-karya terpilih nantinya akan dipamerkan di Jepang bersama dengan karya dari negara-negara lain, dan 2 atau 3 designer pemenang dari Indonesia akan diundang untuk mengikuti ASPaC Week di Tokyo (seminar, site visit, workshop, dsb) pada 3 – 9 Desember 2017. Selain itu, para siswa dengan karya-karya terpilih juga akan meraih penghargaan dan hadiah.

 

Periode Pendaftaran Online:
9 Juni – 6 Oktober 2017
melalui website
www.aspac.jp/en

 

Cara Mendaftar:
Mengisi form secara online di halaman ENTRY,
dan menyiapkan foto mock up / karya design kemasan yang sudah jadi sebanyak 1 hingga 3 foto untuk diupload.

 

Info lebih lanjut: aspac.adgi@gmail.com atau hubungi kantor The Japan Foundation Jakarta

 

Link video ringkasan acara ASPaC tahun lalu: 
https://www.youtube.com/watch?v=YHNB8h6crcs

 

 

Monday, June 5, 2017