Thursday, July 12, 2018

Pameran 4 Sehat 5 Sempurna di Bale Banjar Sangkring


Malam ini Pembukaan Pameran 4 Sehat 5 Sempurna Kamis, 12 Juli 2018, pukul 19.00 wib di Bale Banjar Sangkring.
--
------------------------------------------
Amir Sidharta
amir@sidharta-auctioneer.com
muph.curator@gmail.com 
+628551001788
follow me on twitter & instagram: @senirupa

Monday, July 9, 2018

Lontar Art Benefit, Sunday, 22 July


---------- Forwarded message ---------
From: john mcglynn <john_mcglynn@lontar.org>
Date: Mon, Jul 9, 2018, 9:27 AM
Subject: Save the Date! Lontar Art Benefit, Sunday, 22 July
To: john mcglynn <john_mcglynn@lontar.org>


Dear Friends,

 

Please forward this invitation to other art lovers….

Thanks! Hope to see you at Lontar on Sunday, 22 July.

 

John

 

 

Lontar Art Benefit

Model in Yellow.jpeg

Friends of Lontar cordially invite you to a benefit-sale of artwork by
Alfin Agnuba, Daniel Flanagan, Farhan Siki, Frederikus Matameka,
Hanafi, Lovis Ostenrik,  Petrus Priya Wicaksono, Puput SR,
Robert Pearce, and Ugo Untoro
plus collaborative artwork by
Grafis Minggiran, Hanafi & Goenawan Mohamad
and S. Teddy D. & Daniel Flanagan

 

This show will be held at Lontar's office
Jalan Danau Laut Tawar No. 53, Jakarta 10210

starting Sunday, July 22 (from 4 to 9 pm)
and running through the following week
(every day from 10 AM m to 5 pm )
until Saturday, July 28.

 

Join us at the opening to meet several of the artists!

RSVP to john_mcglynn@lontar.org or WA +628164812155

Note: To get to Jl. Danau Laut Tawar, you must enter Jl. Danau Maninjau, a U-shaped street
with two entrances. On weekends, the Eastern entrance (in front of Gereja Kristus Raja) is closed and you must enter from the other entrance, 200 meters to the West.

 

 

 

Sunday, July 8, 2018

Pencucian Nama (Name Laundring) karya seni terbaru Irwan Ahmett dan Tita Salina

Tentang Karya

Pencucian Nama (Name Laundring) merupakan narasi karya seni terbaru Irwan Ahmett dan Tita Salina berdasarkan hasil riset selama melakukan residensi di NTU CCA Singapore. Sebagai seniman yang tertarik dengan persoalan geopolitik di kawasan Lingkar Pasifik mereka menelaah kembali hubungan Indonesia dan Singapura di selat Malaka sebagai wilayah perairan paling penting di Asia Tenggara. Kontrol dan konflik di kawasan tersebut membentang sepanjang sumpah-sumpah sakral yang ditancapkan ke tanah Jantan hingga perjanjian perusahaan-perusahaan serakah. Pengembangan karya seni mereka berakar dari dampak-dampak kolonialisme, sabotase pasukan bersenjata saat konfrontasi dengan Malaysia, praktik para jagoan lautan yang secara kolektif membajak kapal, jalur smokelen (penyelundupan) dan kehancuran ekologi akibat pembukaan lahan untuk eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Irwan dan Tita merancang aksi 'subversif yang santun' untuk merespon kontrol negara yang dihantui kepentingan ekonomi semata dan kemasan agenda nasionalisme yang dogmatis.

Tentang Irwan Ahmett dan Tita Salina

Irwan Ahmett dan Tita Salina bekerja dan tinggal di Jakarta. Kuliah jurusan Desain Grafis di Institut Kesenian Jakarta dan mendirikan studio desain Ahmett Salina yang sudah berjalan 15 tahun. Sejak 2010, mereka perlahan mulai produktif sebagai seniman duo. Karya awal mereka fokus pada isu ruang publik perkotaan. Sebagai gelandangan kosmopolitan mereka sudah berpartisipasi dalam program residensi di Jepang, Korea, Selandia Baru, Taiwan, Belanda dan Polandia. Irwan dan Tita memanfaatkan mobilitas mereka yang tinggi sebagai kendaraan utama dalam praktik berkeseniannya. Karya jangka panjang mereka merefleksikan benturan geopolitik di Cincin Api Lingkar Pasifik mendorong karya seni mereka untuk bersentuhan dengan tema yang lebih kompleks terkait kemanusiaan, ketidakadilan dan ekologi. Ketika yakin bahwa seni adalah persoalan rasa maka disanalah eksplorasi dan imajinasinya diterapkan untuk mempertanyakan ulang konsepsi rupa dalam gesture ketidakpatuhan terhadap propaganda, ideologi, kekuasaan dan kecenderungan untuk mengklaim status quo di masyarakat.

Theater performance "I segretti di Arlecchino" by Enrico Bonavera 3 August 2018 at GoetheHaus


The Embassy of Italy and the Italian Cultural Institute Jakarta

proudly present a theater performance

 

I segreti di Arlecchino

(The secrets of Harlequin)

 

by

Enrico Bonavera

 

3 August 2018 | 19.00

GoetheHaus

Jl. Dr. Sam Ratulangi no. 9 – 15, Menteng, Jakarta Pusat

 

RSVP by 2 August 2018

Tel. 021 3927531-32 | e-mail: eventi@itacultjkt.or.id

 

 

Kunjungi www.bdgconnex.net untuk info acara Bandung Art Month 2018

Kunjungi www.bdgconnex.net untuk info acara Bandung Art Month 2018

*_Potret Diri sebagai Kaum Munafik_* *Pameran Tunggal Tisna Sanjaya*

*Lawangwangi Creative Space - ArtSociates* bekerja sama dengan *Galeri Nasional Indonesia* dengan bangga mengundang Anda untuk hadir di:

*_Potret Diri sebagai Kaum Munafik_*
*Pameran Tunggal Tisna Sanjaya*
9 - 21 Juli 2018

*Dikuratori oleh*
Hendro Wiyanto & Rizki A. Zaelani

*Pembukaan*
Senin, 9 Juli 2018
19.30
Gedung A
Dibuka oleh :
DR.Hilmar Farid

Instagram: @artsociates.indonesia
Website: www.artsociates.com
_Foto di atas oleh Tisna Sanjaya, Potret Diri sebagai Kaum Munafik, 2017. Koleksi Museum MACAN. Hak milik gambar oleh Museum MACAN._

Friday, July 6, 2018

"Kriya di dalam Seni Rupa Kontemporer"



Galeri Lorong mengundang Anda dalam program rutin kami:
(scroll down for English version)


CRAFTMANTALK #2
"Kriya di dalam Seni Rupa Kontemporer"
 
Pemantik:
Alia Swastika
Hsiang-Wen Chen

 
Moderator:
Arham Rahman

Waktu:
Minggu, 08 Juli 2018
15.00-18.00 WIB


Tempat:
Galeri Lorong
Jl. Nitiprayan –Dusun Jeblok RT. 01, Dukuh 3, Tirtonirmolo, Kasihan Bantul



 
Pada craftmantalk yang pertama, kami mengundang dua orang pemantik untuk mengulik soal posisi kriya di dalam estetika modern. Dari diskusi itu, kita disuguhkan pengantar yang cukup komprehensif perihal bagaimana kriya menjadi subordinat di dalam paradigma estetika modern. Untuk kesempatan kali ini, kami hendak mengembangkan hasil dari obrolan tersebut, maju selangkah dengan melihat secara kritis bagaimana kriya ditempatkan di dalam (wacana dan praktik) seni rupa kontemporer. Kata "kontemporer" di sini tidak hanya mengacu pada lintasan waktu (masa sekarang/kiwari), tetapi juga dalam konteks diskursifnya; paradigma "kontemporer" dalam seni yang menjadi antinomi bagi seni modern.
***

Bagaimana posisi kriya di dalam konteks seni rupa kontemporer? Pertanyaan tersebut akan menjadi pemantik kita di dalam Craftmantalk kali ini. Tidak ada kesepakatan umum yang dijadikan sebagai penanda perihal tonggak awal dimulainya era seni rupa kontemporer. Dalam konteks seni rupa Barat, sebagian pihak menyebut tahun 1960-an, sebagian lagi menunjuk pasca-1989. Di kawasan lain, titik waktunya berbeda-beda; Afrika Selatan (pasca-apartheid), China (pasca-revolusi kebudayaan), dll. Dalam konteks seni rupa Indonesia, pendapat mengenai masa awal era kontemporer juga tidak seragam. Singkatnya, setiap tempat mempunyai kekhasan praktik dan bentuk pemaknaan yang berbeda-beda tentang apa itu kriya kontemporer.

Secara paradigmatis, praktik dan wacana seni rupa kontemporer (terutama dalam konteks seni rupa Barat) berupaya melampaui dikotomi antara fine art dan craft. Dikotomi itu dianggap bermasalah dan tidak lagi relevan. Sudah sangat banyak praktik yang mengombinasikan keduanya, sehingga batasnya menjadi sangat kabur. Kriya umumnya ditunjuk (dan ditandai) sebagai praktik yang bertumpu pada material, teknik dan/atau craftsmanship, bisa digunakan dalam bentuk praktik yang lain, begitu juga sebaliknya. Geliat semacam itu tentu menarik dan kita berharap bisa turut dibicarakan di dalam craftmantalk kali ini.

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami mengundang dua orang pemantik yang akan memberi terang gagasan perihal kriya dalam konteks seni rupa kontemporer dari dua kawasan berbeda. Pembicara pertama, Alia Swastika, akan membicarakan tajuk ini dalam ranah seni rupa Indonesia (dan barangkali, beberapa contoh praktik di Asia Tenggara). Sementara pembicara kedua, Hsiang-Wen Chen, diharapkan untuk membicarakannya dalam konteks seni rupa kontemporer di Taiwan.



----------------------------------------------------------


Craftmantalk #2
"Craft in Contemporary Art"
 
Speakers:
Alia Swastika
Hsiang-Wen Chen

 
Moderator:
Arham Rahman
 

Time:
Sunday, 8 July 2018
03.00 – 06.00 PM
Galeri Lorong

 
In this session, we invite two speakers to examine the position of craft in modern aesthetics. From this discussion, we present a fairly comprehensive introduction about how craft becomes the subordinate in the paradigm of the modern aesthetic. This time we want to develop the outcome of the conversation, take a step forward by looking critically at how craft is placed in contemporary art (discourse and practice). The word "contemporary" here refers not only to the passage of time (the present) but also in its discursive context; the paradigm of "contemporary" in the art that becomes antinomy for the modern art.
***

How is craft positioned in the context of contemporary art? The question will be the highlight of this session of Craftmantalk. There is no general agreement as a marker of the beginning era of contemporary art. In the context of Western art, some might refer to the 1960s, some will refer to the post-1989. In other regions, the time points are different; South Africa (post-apartheid), China (post-cultural revolution), etc. In the context of Indonesian art, opinions about the early period of the contemporary era are also different. In short, every place has a distinct practice and different forms of meaning about what contemporary work is.

Paradigmatically, the practice and the discourse of contemporary art (especially in the context of Western art) seek to transcend the dichotomy between fine art and craft. The dichotomy is considered problematic and is no longer relevant. There are so many practices that combine the two, so the limit becomes very blurred. Craft is generally designated (and marked) as a practice based on material, engineering and/or craftsmanship can be used in other forms of practice, vice versa. This discourse is certainly interesting and we hope to be able to discuss it in this session.

Therefore in this opportunity, we invite two speakers who will inspire the subject of craft in an abstract context. The first speaker, Alia Swastika, will discuss the title in the realm of Indonesian art (and perhaps, some examples of practices in Southeast Asia). While the second speaker, Hsiang-Wen Chen, will discuss the same topic in the context of contemporary art in Taiwan.




Best Regards, Galeri Lorong www.galerilorong.com