|
Monday, May 9, 2016
Ciné-Macet, Program Sinema IFI Jakarta
Thursday, May 5, 2016
Gajah Gallery Open House - 7 & 8 May (Sat & Sun)
| | ||||
![]() x | ||||
xArtwork: Sabri Idrus, Flux II, 2015, Acrylic on Canvas, 180 x 200cm | ||||
| | ||||
| forward to a friend | add us to your address book | unsubscribe | update subscription preferences Copyright © 2013 Gajah Gallery, All rights reserved. 39 Keppel Road, #03-04, Tanjong Pagar Distripark, Singapore 089065 T.6737 4202 E.art@gajahgallery.com www.gajahgallery.com | ||||
Solo Exhibition by Rio Saren at Santrian Gallery
Solo Exhibition by Rio Saren
Fri 6 May - Fri 24 June 2016
SANTRIAN GALLERY
Jl. Danau Tamblingan 47 Sanur - Bali - Indonesia
Tel : 62 - 361 - 288181 Fax : 62 - 361 - 288185
e : griyasantrian@santrian.com w : www.santrian.com
Art essay by I Made Susanta Dwitanaya
Opening on Friday, 6, May, 6:30 PM
Officiated by Warih Wisatsana
Poetry reading by Wayan Jengki Sunarta
Awaiting Light
Oleh : I Made Susanta Dwitanaya
Rio Saren dalam ajang pameran tunggalnya kali ini hadir dengan karya yang didominasi format karya lingkaran. Visual karyanya kali ini hadir dalam bentuk bentuk yang mengalir, semakin berjarak dengan kesan naratif, penuh deformasi, serta kecenderungan ornamentik yang terlihat pada karyanya. Itulah kecenderungan yang paling kasat mata yang tampak pada tampilan visual Rio saat ini.
Seri karya yang terframe dalam judul pameran tunggalanya kali ini yakni "Waiting The Light" sebuah ungkapan yang merepresentasikan muatan simbolik ataupun metaforik ihwal cahaya dalam arti yang luas . Keterinspirasian Rio pada cahaya khususnya cahaya bulan saat purnama ia sajikan dalam sebagian besarkarya berformat lingkaran tersebut tentu saja tidak berhenti pada struktur kebentukannya semata. Sebagai perupa, tentu saja ia memiliki interpretasi yang lebih jauh dari perkara kebentukan, yakni tentang cahaya yang didalamnya terkandung nilai nilai dalam kehidupan manusia secara lebih luas. Gelap dan terang adalah dua hal yang selalu beriringan. Terang atau cahaya menjadi bermakna saat gelap datang. Cahaya adalah simbolisasi dari harapan setiap manusia, ia memiliki sisi universal, karena perkara harapan memang menjadi persoalan bagi semua manusia. Bagaimana manusia memaknai sebuah cahaya, sejatinya merupakan stimulus yang coba dihadirkan dalam ceruk ceruk terdalam dari karya - karyanya. Seperti gagasan esensial yang menggerakkan proses kreatif Rio yakni mengalir begitu saja. Begitupun dengan para pembaca karyanya, Rio tampaknya sedang berupaya mengajak pembacanya untuk mengalir dalam menginterpretasi makna makna hidup dan kehidupan sesuai bentangan horizon harapan masing masing di benak para apresiator karya - karyanya.
Dibalik kuatnya aspek formalistik ( kebentukan) pada karya- karya Rio pada akhirnya tak membuat karyanya cukup terbaca dari sisi itu saja. Jika kita telisik lebih jauh ada nilai nilai simbolik yang sedang ia tuturkan ikhwal hidup dan kehidupan . Tulisan singkat ini lebih berposisi sebagai salah satu pintu masuk saja untuk memasuki interpretasi dan pembacaan para apresiator karya karya Rio. Selamat mengapresiasi dan berdialog tentang cahaya bulan purnama dengan karya karya Rio Saren.
Curriculum Vitae Rio Saren
Born : Bali,Indonesia November 10, 1981
Education : Fine Art and Design Faculty of Institute Seni Indonesia (ISI) Denpasar
Solo Exhibitions :
2010 Galeri You / Shizuoka, Japan
2009 Waja Dalam Tempurung, Green School / Bali, Indonesia
Selected Group Exhibitions :
2015 LAHIR DARI API ~15 Emerging Artists, Jogja Gallery / Jogjakarta, Jawa
the 6th Beijing International Art Biennale / China
TAKE ME OUT, Cata Odata / Bali
GLOBAL CHANGE "ART"CLIMATE 2015, Batubelah Art Space / Bali
2014 ART EXPO(SE) ~Roda Art Project, Maha Art Gallery / Bali
HEART OPENED, Cata Odata / Bali
2013 Out of Frame ~Roda Art Project, Maha Art Gallery / Bali
Art Picnic ~Roda Art Project, Bali ACT / Bali
Bali on the Move, Toni Raka Art Gallery / Bali
2012 EKUMENE, Gaya Art Space / Bali
2011 ENTITAS NURANI, Art Center / Bali
Aduk Sera Aji Keteng, AJBS Gallery / Surabaya, Jawa
2010 Festival Hujan, Bantara Budaya Bali / Bali
Identitas, Bantara Budaya Jogjakarta / Jogjakarta, Jawa
2009 Siklus, Gaya Art Space / Bali
AKU YANG BEBAS, Darga Gallery / Bali
2008 Silence Celebration, Toni Raka Art gallery / Bali
Super Ego, Ego gallery / Jakarta, Jawa
Wajah Wajah, Universitas PASSAU /Jerman
Green, Sanur Village Festival / Bali
Radar Art Award, Toni Raka Art gallery / Bali
Biennale Bangladesh 2008 / Bangladesh
2007 Me between Us, Toni Raka Art gallery / Bali
Contact : Rio Saren
Mobil Phone: 082-145-368035
E-mail: rio.saren@yahoo.co.id
Address: Br.Saren Sibangkaja Abiansemal Badung Bali 80352 Indonesia
Tuesday, May 3, 2016
Festival Printemps Français minggu ini
|
Monday, May 2, 2016
Pembukaan Presentasi Proses rdp#2: 'Sebut Saja 'Mawar' @JogjaContemporary 7 Mei 19.00 wib
--
> Presentasi Proses Proyek Seni Berkelanjutan | Presentation of an on Going Process
> rdp #2 | Sebut Saja "Mawar"
> Datang Silakan - Dilihat Boleh - Dipegang Jangan - Dibuang Sayang
> Jogja Contemporary, 7 - 14 Mei 2016
>
> Acara Pembukaan | Opening Program
> Sabtu | Saturday
> 7 Mei 2016 19.00 Wib.
> Karaoke bersama | Karaoke with
> Bambang "Toko" Witjaksono
>
> Pameran Buka Setiap Hari | Exhibition Open Daily
> 10:00 - 17:00 wib
> Kehadiran Seniman | Artist Presence
> 15:00 - 17:00 wib
> Atau dengan Perjanjian | Or by Appointment
>
> Seniman | Artists
> Lashita Situmorang
> Karina Roosvita Indirasari
>
> Penulis | Writer
> Akiq AW
> Bambang "Toko" Witjaksono
> Sonja Dahl
>
> Reservasi | Reservation
> Ries: +62 818260134
> ries@jogjacontemporary.net
>
> Diskusi Publik | Public Discussion
> Pendidikan Sex untuk Remaja | Sex Education for Teenagers
> Oleh | by DR Laine Berman
> Selasa | Tuesday 10 Mei 2016
> 14:00 - 15:00 wib
> Dengan Pendaftaran | By Registration
> Peserta terbatas 15 orang | 15 seats available
> CP Dwi Uwik +62 85200624949
>
> Bincang Seniman | Artists Talk
> Selasa | Tuesday
> 10 Mei 2016
> 15:30 - 16;30 wib
> Untuk umum | free for public
>
> Jaringan Kerja | Working Network
> Red Dstrict Project
> Jogja Contemporary
> P3SY ( Persatuan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta)
> AGASO ( Anak Gang Sosro)
>
> Red District Project (RDP) adalah program terapan independen berbasis seni dan budaya yang partisipatif dan kreatif dengan tujuan mengangkat dan menawarkan cara pandang baru, yang berbeda dan terbuka mengenai topik seputar praktek prostitusi dan lingkupannya kepada masyarakat luas melalui media seni.
> RDP#1 pertama kali digagas oleh Lashita Situmorang pada tahun 2008-2009 di lokasi prostitusi yang dikenal sebagai Sarkem (diambil dari nama jalan Pasar Kembang). RDP#1 melibatkan sejumlah seniman-seniman baik dari Yogyakarta, Korea dan Amerika untuk memberikan workshop seni dan keterampilan selama 3 bulan intensif di kawasan Sosrowijayan. Program ini terbuka untuk pekerja seks pada khususnya dan warga setempat (baik dewasa, remaja dan anak-anak). Pada prosesnya program RDP#1 berhasil menciptakan 'ruang pertemuan' baru yang netral di antara pekerja seks dan warga sekitar Sosrowijayan. Hasil pertemuan tersebut bisa dilihat dari presentasi akhir RDP#1 yang telah berlangsung pada tanggal 25 Juni 2009, festival seni bernama Sosrow Unite ini diinisiasi bersama oleh Team RDP, warga Sosrowijayan dan pekerja seks.
> Tahun ini, Lashita Situmorang mengajak Karina Roosvita, seorang seniman dan peneliti, mengembangkan dan mengusung RDP#2 pada karya seni berbasis teknologi media baru. Alasan menggunakan media teknologi baru ini sengaja dipilih meski ada larangan 'tidak tertulis' tentang penggunaan alat-alat rekam di kampung. Larangan tersebut dilihat sebagai salah satu bentuk kerentanan dan keresahan sebuah kampung atas konflik yang kerap terjadi berkaitan dengan pembacaan atau pemberitaan praktek prostitusi Sarkem selama ini. Kampung ini diluar praktek prostitusinya, adalah perkampungan biasa dan bukanlah lokalisasi seperti anggapan masyarakat luas. Hal inilah yang kami usung dalam berkarya di RDP#2.
> Karena adanya pengetahuan, kedekatan di proses RDP#1 dan adanya kesamaan visi melihat lokasi sebagai kampung yang melegenda dengan praktek prostitusi didalamnya, maka larangan tersebut dicabut sebagai kesepakatan bersama, ijin berkarya merekam kampungpun diberikan di awal pertemuan bulan September 2015. Pada prosesnya membawa alat rekam/photo berjalan lancar, warga cukup terbuka, hingga pada bulan Maret, Lashita mendapatkan pemberitahuan penghentian kegiatan untuk sementara waktu dikarenakan banyaknya sorotan media terhadap kampung berkenaan penutupan praktek prostitusi Sarkem dan semenjak itu kampungpun kembali tertutup.
> Tajuk RDP#2 "sebut saja Mawar" datang silakan, dilihat boleh, dipegang jangan, dibuang sayang, merupakan presentasi proses kreatif RDP#2 dari meneliti, merekam dan mengolahnya dalam bentuk karya seni di sebuah kampung (di kota) yang telah hidup berdampingan dengan praktek prostitusi selama lebih dari kurun waktu 120 tahun hingga kini.
>
> Bio Seniman:
> Lashita Situmorang (Samarinda, 1977) tinggal dan bekerja di Yogyakarta Indonesia. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Seni Murni tahun 2007. Dalam berkeseniannya, kini Lashita banyak berbicara tentang isu sosial dan lingkungan dengan pendekatan riset sebagai metoda pengkaryaannya. Red District Project (RDP) adalah salah satu proyek kesenian yang ditemukan dan semenjak tahun 2008 dan RDP#2 pada tahun 2016, proyek RDP ini membawa Lashita terlibat dalam beberapa proyek sejenis seperti Makcik Project (Episode 1 tahun 2012 dan Episode 2 tahun 2013), Poetic Everyman Project (Part 1: Micro Cosmos/Macro Cosmos, di Yogyakarta pada tahun 2013 dan Darwin Australia 2014), "Care About Me Not My (Queer) Identity!", WATCH INDONESIA in Berlin, Hannover and Cologne 2011 Immemorial, Indonesia-Australia-Philipine, Chan Contemporary Art Space, NT Darwin, Crossing Signs Project, 14 Artists from Germany and Indonesia Experiencing The "Liminal Zone", Taman Budaya Yogyakarta dan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2010 U(Dys)topia, HFBK Dresden, Freies Museum Berlin, Neuse Kunstforum Cologne, 2009 Immemorial, Jogja- Darwin Project, The South Project, Pertemuan Negara Selatan-Selatan, Yogyakarta.
>
> Karina Roosvita Indirasari, lahir 1978, Yogyakarta, Indonesia adalah penulis dan seniman yang bekerja dengan riset sebagai metode pengkaryaannya. Menggunakan medium fotografi, video dan animasi, Roosvita tertarik mengembangkan politik identitas maupun politik ruang sebagai tema karya dan proyek seni yang diikutinya. Dalam Red District Project #2, Roosvita mengambil topik identitas personal dalam hubungannya dengan identitas lingkungan. Dalam konteks Pasar Kembang, identitas dapat saling bertukar, sekaligus berbatas sangat jelas. Namun sepertinya justru strategi inilah yang menghidupi ruang ini selama 120 tahun keberadaannya. Sebelumnya, bersama Kunci Cultural Studies Roovita mendapatkan penghargaan sebagai Best Event dalam Parallel Event Jogja Biennale XI (2011) dan bersama Kelompok Perempuan Eksperimental mendapatkan penghargaan sebagai Best Event dalam Parallel Event Jogja Biennale XII (2013).
> Saat ini Roosvita juga tergabung dalam kelompok Kongsi Benang dan Forum Peneliti Musik Laras. Roosvita juga sedang berusaha menyelesaikan S2-nya di Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada.
>
> ---
> Red District Project (RDP) is a participatory and creative, art and culture based, independent program aimed to promoting and offering a new different and open perspective on the prostitution and topics surrounding it in to the general public using art as media.
> RDP#1 was firstly initiated by Lashita Situmorang in 2008-2009 at prostitution site known as Sarkem (taken from the name of the street Pasar Kembang meaning Flower Market). RDP#1 involved a number of artists from Yogyakarta, Korea and the United States and provided arts and crafts workshops for an intensive 3-months period at Sosrowijayan area. The program was open to sex workers in particular and the local people ( adults, teens and children). In the process, RDP#1 managed to create a new neutral 'hub' between sex workers and common residents of Sosrowijayan. The results of the interaction was showcased at RDP#1 final presentation on June 25th, 2009, in an art festival named Sosrow Unite, initiated collaboratively by RDP team, Sosrowijayan's residents and sex workers.
> This year, Lashita Situmorang invites Karina Roosvita, an artist and researcher, developing and presenting RDP#2 on new media based artworks. New technology media is deliberately chosen, even though there is a 'unwritten' ban on the use of recording equipment in the area. The ban, they see as a form of vulnerability and insecurity of the area towards the conflicts that often occur with regards to perspectives or public opinions on the prostitution practice in Sarkem. This area, beyond the practice of prostitution, is a regular settlement and not as a prevailing perception (prostitution) localization. This point is what RDP#2 wants to showcase.
> Because of the shared-knowledge, the close relationship in RDP#1 and also shared vision in viewing the 'legendary' reputation of the area, with its prostitution, the local leaders agree to allow the documentation and granted RDP#2 with permit to tape and record, at the beginning of the meeting in September 2015. In the process, bringing a recorder/photo taking equipments was running smoothly. Residents were open until March,
Pameran Fotografi "JEJAK Panorama Award 2016"
|







