Monday, May 9, 2016

Ciné-Macet, Program Sinema IFI Jakarta


Ciné-Macet
Bahasa Indonesia | Français
Cine-Macet

Ciné-Macet

Program pemutaran film IFI kembali digelar mulai tanggal 10 Mei!

Program kali ini menawarkan konsep baru bernama Ciné-Macet. Untuk Anda, khususnya yang beraktivitas di sekitar Jalan Thamrin, dan yang enggan bermacet-macetan, sambil menunggu jalanan lenggang, kini Anda bisa nonton gratis di Auditorium IFI.

Setiap bulannya, kami menghadirkan tontonan berkualitas: 6 film Prancis dan 2 film Indonesia pilihan, setiap Selasa - Sabtu pukul 19.00, plus pemutaran ekstra setiap Kamis pukul 14.00.

Daripada terjebak macet, lebih baik ke Ciné-Macet!

Lihat jadwal bulan Mei
Cine-Macet

Ciné-Macet

Nous avons le plaisir de vous annoncer la reprise de nos projections cinéma au sein de l'auditorium de l'Institut français de Jakarta à partir du 10 mai prochain. Notre concept de programmation a de nouvelles ambitions et un nouveau nom : Ciné-Macet !

Ne perdez plus votre temps dans le trafic infernal de Jakarta et venez plutôt à l'IFI pour des séances de cinéma français et indonésien de qualité. On vous accueille du mardi au samedi à 19h avec une séance supplémentaire le jeudi à 14h. Vous aurez amplement le temps de venir après votre travail ou vos études afin de découvrir des films s'adressant au grand public. Chaque mois, il y aura une programmation thématique en rapport avec l'actualité comprenant 6 films français sous-titré en anglais ou en bahassa et 2 films populaires indonésiens sous-titrés en anglais.

Nous espérons vous voir nombreux lors de nos projections plutôt que dans les Macet de Jakarta.

Programme de mai
Copyright © 2016 IFI, All rights reserved.
You are receiving this email because you opted in at our database

Our mailing address is:
IFI
Institut Français Indonesia (IFI)
Jl MH Thamrin No. 20
Jakarta 10350
Indonesia


Thursday, May 5, 2016

Gajah Gallery Open House - 7 & 8 May (Sat & Sun)




 
   

x

xArtwork: Sabri Idrus, Flux II, 2015, Acrylic on Canvas, 180 x 200cm

forward to a friend   |   add us to your address book   |   unsubscribe   |   update subscription preferences

Copyright © 2013 Gajah Gallery, All rights reserved.

39 Keppel Road, #03-04, Tanjong Pagar Distripark, Singapore 089065  T.6737 4202  E.art@gajahgallery.com
www.gajahgallery.com
 

Solo Exhibition by Rio Saren at Santrian Gallery


 

"Awaiting Light"

Solo Exhibition by Rio Saren

Fri 6 May - Fri 24 June 2016

SANTRIAN GALLERY


Jl. Danau Tamblingan 47  Sanur - Bali - Indonesia

Tel : 62 - 361 - 288181    Fax : 62 - 361 - 288185

e : griyasantrian@santrian.com    w : www.santrian.com


Art essay by I Made Susanta Dwitanaya


Opening on Friday, 6, May, 6:30 PM

Officiated by Warih Wisatsana

Poetry reading by Wayan Jengki Sunarta




埋め込み画像 6


Artworks


埋め込み画像 1


埋め込み画像 2


埋め込み画像 3


 埋め込み画像 4


埋め込み画像 5


Awaiting Light

 Oleh : I Made Susanta Dwitanaya

Rio Saren dalam  ajang pameran tunggalnya kali ini hadir dengan karya yang didominasi format karya lingkaran. Visual karyanya kali ini hadir dalam bentuk bentuk yang mengalir, semakin berjarak dengan kesan naratif, penuh deformasi, serta kecenderungan  ornamentik yang terlihat pada karyanya. Itulah kecenderungan yang paling kasat mata yang tampak pada tampilan visual Rio saat ini.

 Seri karya yang terframe dalam judul pameran tunggalanya kali ini yakni "Waiting The Light" sebuah ungkapan yang merepresentasikan muatan simbolik ataupun metaforik  ihwal cahaya dalam arti yang luas . Keterinspirasian Rio pada cahaya khususnya cahaya bulan saat purnama ia sajikan dalam  sebagian besarkarya  berformat lingkaran tersebut  tentu saja tidak berhenti pada struktur kebentukannya  semata. Sebagai perupa, tentu saja ia memiliki interpretasi yang lebih jauh dari perkara kebentukan, yakni tentang cahaya yang didalamnya terkandung nilai nilai dalam kehidupan manusia secara lebih luas. Gelap dan terang adalah dua hal yang selalu beriringan. Terang atau cahaya menjadi bermakna saat gelap datang.  Cahaya adalah simbolisasi dari harapan setiap manusia, ia memiliki sisi universal, karena perkara harapan memang menjadi persoalan bagi semua manusia. Bagaimana manusia memaknai sebuah cahaya, sejatinya merupakan stimulus yang coba dihadirkan dalam  ceruk ceruk terdalam dari karya - karyanya. Seperti gagasan esensial yang menggerakkan proses kreatif Rio yakni mengalir begitu saja. Begitupun dengan  para pembaca karyanya, Rio tampaknya sedang berupaya mengajak pembacanya untuk  mengalir dalam menginterpretasi makna makna hidup dan kehidupan sesuai bentangan horizon harapan masing masing di benak para apresiator karya - karyanya.

Dibalik kuatnya aspek formalistik ( kebentukan) pada karya- karya Rio pada akhirnya tak membuat karyanya cukup terbaca dari sisi itu saja. Jika kita telisik lebih jauh ada nilai nilai simbolik yang sedang ia tuturkan ikhwal hidup dan kehidupan . Tulisan singkat ini lebih berposisi sebagai salah satu pintu masuk saja untuk memasuki interpretasi dan pembacaan para apresiator karya karya Rio. Selamat mengapresiasi dan berdialog tentang cahaya bulan purnama dengan karya karya Rio Saren.

 

 
Curriculum Vitae Rio  Saren

Born : Bali,Indonesia   November 10, 1981

Education : Fine Art and Design Faculty of Institute Seni Indonesia (ISI) Denpasar

 

Solo Exhibitions :

2010  Galeri You / Shizuoka, Japan

2009  Waja Dalam Tempurung, Green School / Bali, Indonesia

 

Selected  Group Exhibitions :

2015  LAHIR DARI API ~15 Emerging Artists, Jogja Gallery / Jogjakarta, Jawa

           the 6th Beijing International Art Biennale / China

           TAKE ME OUT, Cata Odata / Bali

           GLOBAL CHANGE "ART"CLIMATE 2015, Batubelah Art Space / Bali

2014  ART EXPO(SE)  ~Roda Art Project, Maha Art Gallery / Bali

           HEART OPENED, Cata Odata / Bali

2013  Out of Frame ~Roda Art Project, Maha Art Gallery / Bali

           Art Picnic  ~Roda Art Project, Bali ACT / Bali

           Bali on the Move, Toni Raka Art Gallery / Bali

2012  EKUMENE, Gaya Art Space / Bali

2011  ENTITAS NURANI,  Art Center / Bali

           Aduk Sera Aji Keteng,  AJBS Gallery / Surabaya, Jawa

2010  Festival Hujan, Bantara Budaya Bali / Bali

           Identitas, Bantara Budaya Jogjakarta / Jogjakarta, Jawa

2009  Siklus, Gaya Art Space / Bali

           AKU YANG BEBAS, Darga Gallery / Bali

2008  Silence Celebration, Toni Raka Art gallery / Bali

           Super Ego,  Ego gallery / Jakarta, Jawa

           Wajah Wajah, Universitas PASSAU /Jerman

           Green, Sanur Village Festival / Bali

           Radar Art Award, Toni Raka Art gallery / Bali

           Biennale Bangladesh 2008 / Bangladesh

2007  Me between Us, Toni Raka Art gallery / Bali
 

Contact : Rio Saren

Mobil Phone: 082-145-368035

E-mail: rio.saren@yahoo.co.id

Address: Br.Saren Sibangkaja Abiansemal Badung Bali 80352 Indonesia


Tuesday, May 3, 2016

Festival Printemps Français minggu ini




Printemps Français 2016
Bahasa Indonesia | Français
Printemps Français 2016

Festival Printemps Français 2016

 

Acara Minggu Ini

3 - 13 Mei
Fotografi
Christophe Loviny
Loviny
5 Mei
Musik Klasik 
Doulce Mémoire & Maestro Musik Sunda
Doulce Mémoire
6 Mei
Konser Musik Elektronik 
Thylacine & Les Gordon
7 Mei
Rock
Kokomo

 
Selengkapnya

 
 
Printemps Français 2016

Festival Printemps Français 2016

 

Programme de la semaine

3 > 13 mai
Photographie
Christophe Loviny
Loviny
5 mai
Musique classique
Doulce Mémoire & Maestro Musik Sunda
Doulce Mémoire
6 mai
Musique électronique
Thylacine & Les Gordon
7 mai
Rock
Kokomo
Copyright © 2016 IFI, All rights reserved.
You are receiving this email because you opted in at our database

Our mailing address is:
IFI
Institut Français Indonesia (IFI)
Jl MH Thamrin No. 20
Jakarta 10350
Indonesia


Monday, May 2, 2016

Pembukaan Presentasi Proses rdp#2: 'Sebut Saja 'Mawar' @JogjaContemporary 7 Mei 19.00 wib

--

> Presentasi Proses Proyek Seni Berkelanjutan | Presentation of an on Going Process
> rdp #2 |  Sebut Saja "Mawar"
> Datang Silakan - Dilihat Boleh - Dipegang Jangan - Dibuang Sayang
> Jogja Contemporary, 7 - 14 Mei 2016
>  
> Acara Pembukaan | Opening Program
> Sabtu | Saturday
> 7 Mei 2016 19.00 Wib.
> Karaoke bersama | Karaoke with
> Bambang "Toko" Witjaksono
>  
> Pameran Buka Setiap Hari | Exhibition Open Daily
> 10:00 - 17:00 wib
> Kehadiran Seniman | Artist Presence
> 15:00 - 17:00 wib
> Atau dengan Perjanjian | Or by Appointment
>  
> Seniman | Artists
> Lashita Situmorang
> Karina Roosvita Indirasari
>  
> Penulis | Writer
> Akiq AW
> Bambang "Toko" Witjaksono
> Sonja Dahl
>  
> Reservasi | Reservation
> Ries: +62 818260134
> ries@jogjacontemporary.net
>  
> Diskusi Publik | Public Discussion
> Pendidikan Sex untuk Remaja | Sex Education for Teenagers
> Oleh | by DR Laine Berman
> Selasa | Tuesday 10 Mei 2016
> 14:00 - 15:00 wib
> Dengan Pendaftaran | By Registration
> Peserta terbatas 15 orang | 15 seats available
> CP Dwi Uwik +62 85200624949
>  
> Bincang Seniman | Artists Talk
> Selasa | Tuesday
> 10 Mei 2016
> 15:30 - 16;30 wib
> Untuk umum | free for public
>  
> Jaringan Kerja | Working Network
> Red Dstrict Project
> Jogja Contemporary
> P3SY ( Persatuan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta)
> AGASO ( Anak Gang Sosro)
>  
>             Red District Project (RDP) adalah program terapan independen berbasis seni dan budaya yang partisipatif dan kreatif dengan tujuan mengangkat dan menawarkan cara pandang baru, yang berbeda dan terbuka mengenai topik seputar praktek prostitusi dan lingkupannya kepada masyarakat luas melalui media seni. 
>             RDP#1 pertama kali digagas oleh Lashita Situmorang pada tahun 2008-2009 di lokasi prostitusi yang dikenal sebagai Sarkem (diambil dari nama jalan Pasar Kembang).  RDP#1 melibatkan sejumlah seniman-seniman baik dari Yogyakarta, Korea dan Amerika untuk memberikan workshop seni dan keterampilan selama 3 bulan intensif di kawasan Sosrowijayan. Program ini terbuka untuk pekerja seks pada khususnya dan warga setempat (baik dewasa, remaja dan anak-anak). Pada prosesnya program RDP#1 berhasil menciptakan 'ruang pertemuan' baru yang netral di antara pekerja seks dan warga sekitar Sosrowijayan. Hasil pertemuan tersebut bisa dilihat dari presentasi akhir RDP#1 yang telah berlangsung pada tanggal 25 Juni 2009, festival seni bernama Sosrow Unite ini diinisiasi bersama oleh Team RDP, warga Sosrowijayan dan pekerja seks.
>             Tahun ini, Lashita Situmorang mengajak Karina Roosvita,  seorang seniman dan peneliti, mengembangkan dan mengusung RDP#2 pada karya seni berbasis teknologi media baru. Alasan menggunakan media teknologi baru ini sengaja dipilih meski ada larangan 'tidak tertulis' tentang  penggunaan alat-alat rekam di kampung. Larangan tersebut dilihat sebagai salah satu bentuk kerentanan dan keresahan sebuah kampung atas konflik yang kerap terjadi berkaitan dengan pembacaan atau pemberitaan praktek prostitusi Sarkem selama ini.  Kampung ini diluar praktek prostitusinya, adalah perkampungan biasa dan bukanlah lokalisasi seperti anggapan masyarakat luas. Hal inilah yang kami usung dalam berkarya di RDP#2.
>             Karena adanya pengetahuan, kedekatan di proses RDP#1 dan adanya kesamaan visi melihat lokasi sebagai kampung yang melegenda dengan praktek prostitusi didalamnya, maka larangan tersebut dicabut sebagai kesepakatan bersama, ijin berkarya merekam kampungpun diberikan di awal pertemuan bulan September 2015. Pada prosesnya membawa alat rekam/photo berjalan lancar, warga cukup terbuka, hingga pada bulan Maret, Lashita mendapatkan pemberitahuan penghentian kegiatan untuk sementara waktu dikarenakan banyaknya sorotan media terhadap kampung berkenaan penutupan praktek prostitusi Sarkem dan semenjak itu kampungpun kembali tertutup.
>             Tajuk RDP#2  "sebut saja Mawar" datang silakan, dilihat boleh, dipegang jangan, dibuang sayang, merupakan presentasi proses kreatif RDP#2 dari meneliti, merekam dan mengolahnya dalam bentuk karya seni di sebuah kampung (di kota) yang telah hidup berdampingan dengan praktek prostitusi selama lebih dari kurun waktu 120 tahun hingga kini.
>  
> Bio Seniman:
> Lashita Situmorang (Samarinda, 1977) tinggal dan bekerja di Yogyakarta Indonesia. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Seni Murni  tahun 2007. Dalam berkeseniannya, kini Lashita banyak berbicara tentang isu sosial dan lingkungan dengan pendekatan riset sebagai metoda pengkaryaannya. Red District Project (RDP) adalah salah satu proyek kesenian yang ditemukan dan semenjak tahun 2008 dan RDP#2 pada tahun 2016,  proyek RDP ini membawa Lashita terlibat dalam beberapa proyek sejenis seperti Makcik Project (Episode 1 tahun 2012 dan Episode 2 tahun 2013), Poetic Everyman Project (Part 1: Micro Cosmos/Macro Cosmos, di Yogyakarta pada tahun 2013 dan Darwin Australia 2014), "Care About Me Not My (Queer) Identity!", WATCH INDONESIA in Berlin, Hannover and Cologne 2011 Immemorial, Indonesia-Australia-Philipine, Chan Contemporary Art Space, NT Darwin, Crossing Signs Project, 14 Artists from Germany and Indonesia Experiencing The "Liminal Zone", Taman Budaya Yogyakarta dan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2010 U(Dys)topia, HFBK Dresden, Freies Museum Berlin, Neuse Kunstforum Cologne, 2009 Immemorial, Jogja- Darwin Project, The South Project, Pertemuan Negara Selatan-Selatan, Yogyakarta.
>  
> Karina Roosvita Indirasari, lahir 1978, Yogyakarta, Indonesia adalah penulis dan seniman yang bekerja dengan riset sebagai metode pengkaryaannya. Menggunakan medium fotografi, video dan animasi, Roosvita tertarik mengembangkan politik identitas maupun politik ruang sebagai tema karya dan proyek seni yang diikutinya. Dalam Red District Project #2,  Roosvita mengambil topik identitas personal dalam hubungannya dengan identitas lingkungan. Dalam konteks Pasar Kembang, identitas dapat saling bertukar, sekaligus berbatas sangat jelas. Namun sepertinya justru strategi inilah yang menghidupi ruang ini selama 120 tahun keberadaannya. Sebelumnya, bersama Kunci Cultural Studies Roovita mendapatkan penghargaan sebagai Best Event dalam Parallel Event Jogja Biennale XI (2011) dan bersama Kelompok Perempuan Eksperimental mendapatkan penghargaan sebagai Best Event dalam Parallel Event Jogja Biennale XII (2013).
> Saat ini Roosvita juga tergabung dalam kelompok Kongsi Benang dan Forum Peneliti Musik Laras. Roosvita juga sedang berusaha menyelesaikan S2-nya di Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada.
>  
> ---
>             Red District Project (RDP) is a participatory and creative, art and culture based, independent  program aimed to promoting and offering a new different and open perspective on the prostitution and topics surrounding it in to the general public using art as media.
>             RDP#1 was firstly initiated by Lashita Situmorang in 2008-2009 at prostitution site known as Sarkem (taken from the name of the street Pasar Kembang meaning Flower Market). RDP#1 involved a number of artists from Yogyakarta, Korea and the United States and provided arts and crafts workshops for an intensive 3-months period at Sosrowijayan area. The program was open to sex workers in particular and the local people ( adults, teens and children). In the process, RDP#1 managed to create a new neutral 'hub' between sex workers and common residents of Sosrowijayan. The results of the interaction was showcased at RDP#1 final presentation on June 25th, 2009, in an art festival named Sosrow Unite, initiated collaboratively by RDP team, Sosrowijayan's residents and sex workers.
>             This year, Lashita Situmorang invites Karina Roosvita, an artist and researcher, developing and presenting RDP#2 on new media based artworks. New technology media is deliberately chosen, even though there is a 'unwritten' ban on the use of recording equipment in the area. The ban, they see as a form of vulnerability and insecurity of the area towards the conflicts that often occur with regards to perspectives or public opinions on the prostitution practice in Sarkem. This area, beyond the practice of prostitution, is a regular settlement and not as a prevailing perception (prostitution) localization. This point is what RDP#2 wants to showcase.
>             Because of the shared-knowledge, the close relationship in RDP#1 and also shared vision in viewing the 'legendary' reputation of the area, with its prostitution, the local leaders agree to allow the documentation and granted RDP#2 with permit to tape and record, at the beginning of the meeting in September 2015. In the process, bringing a recorder/photo  taking equipments was running smoothly.  Residents were open until March,

Pameran Fotografi "JEJAK Panorama Award 2016"




https://www.facebook.com/events/250180365370067/

View this email in your browser

 

https://www.facebook.com/events/250180365370067

Persatuan Fotografi Mahasiswa (PANORAMA) dan Galeri Foto Jurnalistik Antara dengan bangga mempersembahkan :

Penganugerahan dan Pameran Foto :
Panorama Awards 2016 : "JEJAK"

Pembukaan Pameran, UKM Terbaik, dan Penganugerahan :
Hari dan tanggal : Jumat, 06 Mei 2016
Tempat : Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara no 59 Pasar Baru, Jakarta 10710
Jakarta Pusat

Pukul : 19.00 s/d selesai

Dibuka oleh Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur Dki Jakarta)*

Pameran Foto :
Tanggal : 06 - 20 Mei 2016
Tempat : Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA)
Jl. Antara no 59 Pasar Baru, Jakarta 10710
Jakarta Pusat

Pengisi acara :
Dancing Alaska
KPJ Bulungan
Trip Trapper
This and That

Workshop dan Seminar :

- Workshop Digital Imaging*
Minggu, 08 Mei 2016
Oleh : Roy Genggam

-Workshop Camera 360°
Minggu, 15 Mei 2016
Oleh : Oktagon Vr

-Personal Project Illusion and Flores Revisited
Rabu, 18 Mei 2016
Oleh : Ng Swan Ti

Contact Person :
Ega : 0859 4512 1744
Yolanda : 0819 9332 0956

Twitter : @panoramajakarta
Instagram : panoramajakarta
Facebook : panoramajakarta

*dalam konfirmasi


GRATIS/Terbuka untuk umum

Copyright © 2016 Galeri Foto Jurnalistik Antara, All rights reserved.
Anda menerima email ini karena terdaftar pada buku kunjungan tamu di pameran kami atau rekomendasi dari sahabat GFJA. Anda memiliki opsi untuk tidak menerima email ini di kemudian hari dengan memilih tautan unsubscribe dibawah ini.

Our mailing address is:
Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jalan Antara no.59
Pasar Baru
Jakarta 10710
Indonesia